09 May 2026
WIB
Berita Pemerintah

KOTA SERANG – Di tengah transformasi besar penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 H/2026 M, jemaah diingatkan untuk tidak sekadar mengejar pemenuhan rukun fisik, melainkan menyentuh esensi spiritual yang paling dalam.

Pesan reflektif ini disampaikan oleh Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten, Dr. H. Deni Rusli, saat menjadi narasumber dalam program Mutiara Pagi di Radio Republik Indonesia (RRI) Pro Banten 94.9 FM, Kamis (7/5/2026).

Menurut Dr. Deni, tahun 2026 menjadi tonggak baru dengan beralihnya nakhoda penyelenggaraan ke Kementerian Haji dan Umrah. Meski indeks kepuasan pelayanan teknis seperti akomodasi, transportasi, dan konsumsi diprediksi meningkat signifikan, tantangan terbesar justru ada pada batin jemaah.

 "Jika akomodasi sudah nyaman, transportasi sudah lancar, dan konsumsi sudah memuaskan, maka tugas besar berikutnya ada di tangan jemaah itu sendiri. Yakni memastikan perjalanan ini bukan sekadar wisata religi mekanis, melainkan sebuah 'evolusi' jiwa menuju Sang Pencipta," ujar pria yang akrab disapa Kang Deni ini.

Mengulas rukun haji satu per satu, Dr. Deni menjelaskan bahwa Ihram adalah simbol dekonstruksi identitas. Dengan hanya selembar kain putih tanpa jahitan, segala atribut duniawi—baik itu jabatan, gelar akademis, hingga status sosial—seketika ditinggalkan.

 "Ihram adalah pengingat tajam akan kain kafan. Di hadapan-Nya, menteri dan petani berdiri sejajar. Inilah momen mematikan ego dan latihan kendali diri total untuk menjadi pribadi yang paling tidak berbahaya bagi alam semesta," tegasnya.

Ia juga menyampaikan  Puncak haji di Padang Arafah disebutnya sebagai "miniatur Padang Mahsyar". Di sana, manusia dipaksa berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk mengenal (Arafah) jati diri yang paling jujur.

Sementara dalam Tawaf, pergerakan mengelilingi Ka’bah melambangkan harmoni alam semesta. Dr. Deni menekankan bahwa setiap putaran adalah ikrar bahwa Allah harus menjadi pusat dari setiap keputusan dan tindakan manusia setelah pulang ke tanah air.

 Tak kalah penting, Dr. Deni menjelaskan filosofi Sa’i (berlari kecil antara Shafa dan Marwah) mengajarkan totalitas ikhtiar. "Meski tampak mustahil mencari air di padang pasir, Sa’i membuktikan bahwa mukjizat akan datang justru di saat keringat terakhir kita menetes," ungkapnya.

Sedangkan ritual Melempar Jumrah dipandang sebagai "Revolusi Internal". Musuh yang dilempar bukanlah pilar batu, melainkan sifat-sifat buruk, kesombongan, dan ketamakan yang bersarang di dalam dada jemaah.

Sebagai penutup, Dr. Deni menegaskan bahwa kemabruran haji diukur dari perubahan karakter, bukan kemegahan fasilitas selama di Tanah Suci.

 "Haji bukan tentang seberapa megah hotel tempat menginap, tapi tentang seberapa besar perubahan karakter yang dibawa pulang. Jika ego kita masih setinggi gunung dan kepedulian sosial masih serendah lembah, mungkin kita baru melakukan perjalanan fisik, belum perjalanan spiritual," pungkasnya.

Melalui pesan ini, diharapkan para jemaah haji asal Banten khususnya, dan Indonesia umumnya, dapat membawa pulang "jiwa yang baru" yang mampu menebar kemanfaatan bagi sesama. ( HS/RED )

Penulis :Benies Husaeni

Keyword:

Share: