01 Sep 2026
WIB
Berita Pemerintah

KOTA SERANG — Upaya meningkatkan produktivitas pertanian di Provinsi Banten mulai menunjukkan hasil. Penerapan teknologi modern dalam sektor pertanian menjadi salah satu langkah strategis pemerintah untuk mendorong hasil panen sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Hal tersebut terlihat dalam kegiatan Panen Bersama Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) Provinsi Banten yang digelar Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBPMP) Banten di Poktan Tani Bakti, Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Selasa (1/9/2026).

Gubernur Banten Andra Soni menegaskan bahwa modernisasi pertanian tidak boleh berhenti pada seremoni panen. Menurutnya, keberhasilan program harus dibuktikan melalui konsistensi hasil produksi dan dampaknya terhadap pendapatan petani.

Andra bahkan menyampaikan keinginannya untuk hadir langsung saat proses tanam. Ia ingin memastikan bahwa peningkatan hasil pertanian yang disampaikan dalam laporan benar-benar terjadi di lapangan.

“Saya ingin hadir pas tanam karena saya khawatir waktu itu cuma difoto-foto, nanti enggak ketahuan hasil panennya seperti apa. Nanti laporannya bagus saja. Saya pengin lihat secara langsung,” ujarnya.

Bagi Andra, modernisasi pertanian harus menghasilkan manfaat nyata. Lahan pertanian harus dimanfaatkan secara optimal, sementara petani mendapatkan pendampingan, teknologi, hingga akses pasar yang memadai.

Ia mencontohkan potensi pendapatan petani apabila mampu mengelola lahan satu hektare secara optimal. Berdasarkan perhitungan yang disampaikannya, pendapatan petani berpotensi mencapai sekitar Rp12,49 juta per bulan atau sekitar Rp49 juta hingga Rp50 juta dalam satu kali panen.

“Lahan kita dimanfaatkan betul, petani kita dibantu sehingga angka-angka ini benar-benar menjadi realisasi. Ini luar biasa,” kata Andra.

Salah satu hal yang menjadi perhatian Gubernur Banten adalah keberlanjutan program setelah panen perdana. Ia mempertanyakan apakah peningkatan produksi tersebut dapat dipertahankan pada musim tanam berikutnya.

Andra menyebut adanya informasi mengenai peningkatan kapasitas panen yang hampir mencapai 100 persen. Namun, peningkatan produksi menurutnya harus diikuti dengan kesiapan penyerapan hasil panen agar petani tidak menghadapi persoalan pemasaran.

Ia pun menyinggung kesiapan Perum Bulog dalam menyerap hasil produksi petani.

“Jangan sampai petani nanti bingung mau ke mana. Kalau produksi meningkat, penyerapan juga harus siap,” tegasnya.

Menurut Andra, kondisi harga beras yang sedang tinggi semestinya dapat menjadi momentum yang memberikan keuntungan lebih baik bagi petani. Karena itu, sinergi antara pemerintah, Bulog, kelompok tani, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi penting untuk memastikan hasil produksi terserap dengan baik.

Selain produktivitas dan pemasaran, Andra menilai tantangan berikutnya adalah kemampuan petani dalam mengoperasikan teknologi pertanian modern.

Dalam kegiatan tersebut, ia melihat langsung berbagai peralatan modern, termasuk drone berukuran besar yang digunakan untuk mendukung kegiatan pertanian.

Namun, teknologi tersebut tidak akan memberikan dampak maksimal apabila tidak dibarengi dengan sumber daya manusia yang mampu mengoperasikannya.

“Kita perlu menciptakan petani-petani milenial, petani-petani yang melek teknologi agar kelompok tani kita bisa makmur dan sejahtera,” ujarnya.

Karena itu, Andra meminta adanya pendampingan dari pemerintah, termasuk penyediaan tutor atau tenaga ahli yang dapat membantu kelompok tani memahami sekaligus mengoperasikan teknologi pertanian modern.

Menurutnya, transfer pengetahuan menjadi bagian penting dari modernisasi pertanian. Petani tidak cukup hanya diberikan alat, tetapi juga harus dibekali kemampuan agar teknologi tersebut dapat digunakan secara berkelanjutan.

Andra menegaskan, keberhasilan modernisasi pertanian seharusnya tidak hanya diukur dari banyaknya hasil panen. Ukuran yang lebih penting adalah apakah produktivitas tersebut mampu meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani.

“Yang saya minta adalah konsistensinya dan dukungan semua pihak agar petani kita benar-benar bisa sejahtera,” katanya.

Ia mengapresiasi sinergi pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Banten, pemerintah daerah, kelompok tani, serta pihak lain yang terlibat dalam program tersebut.

Andra berharap modernisasi pertanian di Banten dapat menjadi model yang terus dikembangkan, bukan sekadar program sesaat. Dengan dukungan teknologi, pendampingan, peningkatan kapasitas petani, serta jaminan pasar, sektor pertanian diyakini memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

“Bahagia melihat bahwa apa yang kita tanam tiga bulan yang lalu hasilnya sudah kelihatan,” ujar Andra.

Di tengah geliat modernisasi tersebut, pesan Gubernur Banten menjadi jelas: panen bukanlah garis akhir. Panen adalah awal untuk membuktikan apakah teknologi benar-benar mampu membawa petani menuju kehidupan yang lebih sejahtera. ( HS/RED )

Penulis : Benies Husaeni

Keyword:

Pemkot Serang,Gubernur Banten,Wali Kota Serang ,BBPMP Banten,Teknologi Pertanian,Provinsi Banten

Share: