20 Aug 2026
WIB
Berita Pemerintah

KOTA SERANG – Ancaman kekeringan dan perubahan cuaca ekstrem mulai membayangi sektor pertanian. Di saat yang sama, gejolak harga pangan berpotensi menekan daya beli masyarakat.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Kota (Pemkot) Serang. Melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Pemkot Serang menyiapkan tiga strategi utama untuk menjaga pasokan pangan sekaligus memastikan harga kebutuhan pokok tetap terjangkau.

Wakil Wali Kota Serang, Nur Agis Aulia, mengatakan perubahan iklim ekstrem tidak boleh dipandang sebelah mata karena dampaknya dapat merembet dari lahan pertanian hingga ke pasar dan akhirnya dirasakan langsung masyarakat.

Hal itu disampaikannya saat menghadiri rapat koordinasi pengendalian inflasi di Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Banten, Jalan KH Abdul Fatah Hasan No. 33, Kelurahan Sumurpecung, Kecamatan Serang, Kamis (20/8/2026).

“Kekeringan sudah terjadi di beberapa daerah termasuk Kota Serang. Ini berdampak pada sektor pertanian. Ada pergeseran musim tanam dan potensi gagal panen yang mengancam pasokan pangan,” ungkap Agis.

Menurutnya, terganggunya produksi pertanian berpotensi memicu efek domino. Ketika pasokan berkurang, harga komoditas pangan di pasar akan terdorong naik.

“Kalau pasokan terganggu, harga di pasar pasti melonjak. Dan yang pertama merasakan dampaknya adalah masyarakat kecil,” ujarnya.

Mengantisipasi kondisi tersebut, TPID Kota Serang menetapkan tiga strategi yang diarahkan tidak hanya untuk merespons kenaikan harga, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dari hulu hingga hilir.

Pertama, memperkuat ekosistem pangan daerah dari hulu ke hilir.

Langkah ini dilakukan dengan memperkuat rantai pasok lokal, mengoptimalkan lumbung pangan serta memperluas kerja sama antardaerah dengan wilayah sentra produksi pangan.

Strateginya sederhana, tetapi krusial: memastikan pasokan dari petani dapat mengalir lancar hingga ke pasar-pasar tradisional di Kota Serang tanpa hambatan distribusi.

Kedua, lanjutnya memperkuat mitigasi perubahan iklim di sektor pertanian.

Dinas Pertanian didorong lebih aktif mendampingi petani menghadapi perubahan pola cuaca. Pendampingan mencakup pemanfaatan teknologi pertanian adaptif iklim, perbaikan sistem irigasi hingga penggunaan varietas bibit yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem.

Dengan langkah tersebut, risiko penurunan produksi akibat perubahan iklim diharapkan dapat ditekan sejak dari tingkat produksi.

Ketiga, melakukan intervensi pasar secara terukur dan berbasis data.

"Pemkot Serang tidak ingin menunggu harga pangan terlanjur melonjak baru bertindak. Pemantauan harga bahan pokok dilakukan secara real-time untuk mendeteksi lebih awal komoditas yang mulai menunjukkan tren kenaikan," jelasnya

Jika terjadi gejolak, lanjutnya pemerintah dapat melakukan intervensi melalui Operasi Pasar Murah, Gerakan Pangan Murah maupun pemanfaatan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah secara tepat sasaran.

Ketiga strategi tersebut diperkuat dengan pendekatan 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.

Agis menekankan bahwa pengendalian inflasi bukan pekerjaan satu instansi. Dibutuhkan koordinasi lintas sektor agar setiap potensi persoalan dapat diantisipasi sebelum berkembang menjadi gejolak harga.

“Kunci utamanya: sinergi dan kolaborasi. Hilangkan ego sektoral,” tegasnya.

Kolaborasi tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari Bank Indonesia, BPS, Satgas Pangan Polres, Kejaksaan, Dandim 0602 hingga seluruh pemangku kepentingan terkait.

Upaya pengendalian tersebut sejauh ini menunjukkan hasil positif. Inflasi Kota Serang pada Juli 2026 tercatat 2,77 persen secara tahunan (YoY). Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen ± 1 persen.

“Kami meyakini, dengan kerja keras dan komitmen bersama, kita mampu menjaga stabilitas inflasi sekaligus melindungi kesejahteraan masyarakat Kota Serang,” lanjut Agis.

Pemkot Serang berharap rapat koordinasi tersebut tidak berhenti pada pembahasan, tetapi menghasilkan langkah konkret yang taktis dan solutif.

Pasalnya, tantangan inflasi ke depan tidak hanya datang dari dinamika pasar. Perubahan iklim, kekeringan, pergeseran musim tanam dan potensi gangguan produksi pangan menjadi faktor yang harus diantisipasi secara bersamaan.

Karena itu, menjaga inflasi bukan sekadar mempertahankan angka statistik. Lebih jauh, langkah tersebut merupakan upaya menjaga daya beli dan memastikan masyarakat tetap dapat memenuhi kebutuhan pokok dengan harga yang wajar.

"Dengan memperkuat produksi, menjamin distribusi, memantau pergerakan harga dan bergerak cepat ketika gejolak muncul, Pemkot Serang berupaya memastikan ancaman cuaca ekstrem maupun volatilitas pangan tidak berubah menjadi beban baru bagi masyarakat," harapnya. 

( HS/RED )

Penulis : Benies Husaeni

Keyword:

Pemkot Serang,Wakil Wali Kota Serang,TPID Kota Serang,inflasi Kota Serang 2026,ketahanan pangan Kota Serang,Gerakan Pangan Murah

Share: